miswahyuningsih1201110008

A great WordPress.com site

Penanaman moral pada AUD

Karakter dari bahasa yunani yang berarti “to mark”. Istilah ini fokus pada
tindakan atau tingkah laku. Menurut Muslich (2011: 71) karakter memiliki dua
pengertian yaitu menunjukkan bagaimana orang bertingkah laku dan berkaitan
dengan personaliti. Berkaitan dengan seorang yang bertingkah laku, jika
seseorang bertingkah laku baik seperti suka menolong, jujur, menunjukkan
karakter mulia dan ini berlaku pula sebaliknya. Karakter berkaitan dengan
personaliti maksudnya adalah seseorang yang disebut berkarakter jika tingkah
lakunya sesuai kaidah moral. Menurut kamus besar bahasa Indonesia karakter
terkait dengan watak. Watak diartikan sebagai sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan tingkah laku; budi pekerti; dan tabiat.
Dengan demikian, karakter adalah bentuk tingkah laku yang ditunjukkan sesuai
dengan kaidah moral dan budi pekerti.
Likona dalam Muslich (2011: 75) menekankan tiga komponen karakter
yang baik dan harus ditanamkan sejak dini yaitu moral knowing (pengetahuan
tentang moral), moral feeling (perasaan tentang moral), dan moral action
(perbuatan moral). Tiga komponen ini sangat diperlukan untuk dapat memahami,
merasakan, dan mengerjakan nilai-nilai kebijakan. Hal ini menjawab kebutuhan
bahwa pendidikan moral dalam pembelajaran tidak hanya diberikan dalam bentuk
hafalan (kognitif), namun lebih pada pengembangan moral tersebut yang
terinternalisasi dalam diri manusia. Hal ini sesuai pula dengan pengertian
pendidikan karakter dalam PP No.58 yaitu pendidikan yang melibatkan
penanaman pengetahuan, kecintaan dan penanaman perilaku kebaikan yang
menjadi sebuah pola/kebiasaan. Berdasarkan pengertian tersebut maka
pendidikan karakter adalah pendidikan yang membentuk tingkah laku seseorang
agar sesuai dengan kaidah moral baik dalam segi kognitif, afektif dan
psikomotor.
Pembentukan karakter pada anak usia dini dilakukan melalui pembiasaan.
Adapun tujuannya adalah agar anak mempraktekkan langsung nilai-nilai tersebut
dan terbiasa untuk melakukan hal-hal yang baik dengan harapan, nilai tersebut
dapat terinternalisasi dalam kehidupan anak. Penanaman nilai dalam pendidikan
karakter pada anak usia dini sesuai PP No.58 suplemen kurikulum mencakup
empat aspek yaitu aspek spiritual, aspek personal, aspek sosial dan aspek
lingkungan. Nilai-nilai yang dianggap baik dan penting untuk dikenalkan dan
diinternalisasikan untuk anak usia dini sesuai suplemen PP No.58 yaitu
mencangkup; kecintaan terhadap Tuhan YME, kejujuran, disiplin, toleransi dan
cinta damai, percaya diri, mandiri, tolong menolong, kerjasama dan gotong
royong, hormat dan sopan santun, tanggung jawab, kerja keras, kepemimpinan
dan keadilan, kreatif, rendah hati, peduli lingkungan, cinta bangsa dan tanah air.
Berikut ini penjabaran dari masing-masing nilai tersebut dan implikasinya.Kecintaan terhadap Tuhan YME dapat diartikan sebagai nilai yang
didasarkan pada perilaku yang menunjukkan kepatuhan kepada perintah dan
larangan Tuhan YME yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Adapun
contoh dari penanaman nilai ini yaitu menunjukkan rasa sayang dan cinta kasih
kepada ciptaan Tuhan melalui belaian dan rangkulan, menolong teman,
menghargai teman, dan lain sebagainya. Toleransi dan cinta damai dapat diartikan
sebagai penanaman kebiasaan bersabar, tenggang rasa, dan menahan emosi dan
keinginan. Adapun contoh perilaku yang dapat ditanamkan yaitu sabar menunggu
giliran, saling berbagi, bekerja sama, menunjukkan ekspresi yang wajar ketika
sedang marah, sedih, atau gembira.
Disiplin adalah nilai yang berkaitan dengan ketertiban dan keteraturan.
Contoh dari penanaman sikap disiplin yaitu membantu anak untuk mengatur
waktu bermain, datang tepat waktu. Kejujuran adalah keadaan yang terkait dengan
ketulusan dan kelurusan hati untuk berbuat benar. Adapun contoh penanaman
nilai ini yaitu dapat ditanamkan pendidik pada anak dengan cara memberi fasilitas
kotak khusus untuk temuan. Setiap anak yang menemukan sesuatu yang bukan
miliknya dapat meletakkan barang tersebut dalam kotak temuan sehingga setiap
teman yang merasa kehilangan dapat mencari barang yang hilang tersebut dalam
kotak temuan. Jika di rumah nilai kejujuran dapat ditanamkan dengan meluangkan
waktu untuk mendengarkan cerita anak dan mempercayai cerita tersebut sebagai
sebuah kebenaran sambil meyakinkan anak bahwa cerita tersebut memang benar.
Percaya diri adalah sikap yang menunjukkan bahwa anak mampu
memahami diri dan nilai harga diri. Adapun contoh penanaman nilai ini yaitu
dengan cara memberikan pujian atau penguatan tentang semua apa yang dimiliki
oleh anak sehingga anak mampu menerima diri secara positif, misalnya,
mengatakan kamu pasti bisa, kamu pintar sekali, coba lagi, wow…hasil karyamu
luar biasa. Mandiri adalah perilaku yang tidak bergantung pada orang lain.
Penanaman ini bertujuan untuk membiasakan anak menentukan, melakukan,
memenuhi kebutuhan sendiri tanpa bantuan atau dengan bantuan yang seperlunya.
Adapun contoh penanaman nilai ini yaitu memberi anak kesempatan untuk mencoba mengerjakan sesuatu sendiri, misalnya memakai pakaian sendiri, makan
sendiri, memakai sepatu sendiri, mengerjakan tugas sendiri.
Kreatif adalah kemampuan seseorang untuk melahirkan sesuatu yang baru,
baik berupa gagasan maupun karya nyata, baik dalam bentuk karya baru maupun
kombinasi dengan hal-hal yang sudah ada, yang belum pernah ada sebelumnya
dengan menekankan kemampuan yang berkaitan dengan kemampuan untuk
mengkombinasikan, memecahkan atau menjawab masalah, dan cerminan
kemampuan operasional anak kreatif. Adapun contoh penanaman nilai ini adalah
pendidik harus bersikap terbuka, memiliki toleransi yang tinggi dan memaparkan
ide-ide kreatif lain sehingga anak mampu menciptakan kreatifitas sendiri,
misalnya, mengajak anak melihat pameran, berkarya wisata, menyediakan
berbagai buku bacaan.
Kerja keras adalah nilai yang berkaitan dengan perilaku pantang menyerah
yaitu mengerjakan sesuatu hingga selesai dengan gembira. Adapun contoh
perilaku ini yaitu anak dapat mencoba dan terus mencoba, mengerjakan tugas
sampai selesai, berusaha mencari atau menyelesaikan tugas sendiri dengan
berbagai cara. Tanggung jawab adalah nilai yang terkait dengan kesadaran untuk
melakukan dan menanggung segala sesuatunya. Adapun contoh penanaman nilai
ini misalnya, membereskan mainan sendiri sehabis bermain, menyelesaikan tugas
yang diberikan, mengembalikan buku atau peralatan lain pada tempatnya.
Rendah hati adalah mencerminkan kebesaran jiwa seseorang dan sikap
tidak sombong dan bersedia untuk mengalami kehebatan orang lain. Contoh
perilaku ini meminta maaf jika salah, memuji karya teman dengan kata-kata,
menghargai hasil karya teman dan lain-lain. Hormat dan santun adalah nilai yang
terkait dengan tata krama penghormatan pada orang lain yang sesuai dengan
norma budaya. Contoh perilaku ini adalah berbicara bergantian, meminta dengan
sopan, mengucapkan terima kasih, mengucapkan tolong jika membutuhkan
bantuan.
Tolong menolong, kerjasama dan gotong royong adalah merupakan bentuk
kemampuan sosialisasi dan kematangan emosi. Beberapa contoh kegiatan yang
dapat dilakukan adalah membuat strategi pembelajaran yang dilakukan berkelompok, menggunakan metode proyek, mengatur pembagian tugas.
Kepemimpinan dan keadilan dapat ditunjukkan dengan mau menjadi pemimpin,
mengajak teman untuk melakukan hal yang baik, menjadi penengah, mau
menerima berbagai keadaan orang lain, mampu memecahkan masalah dengan
memperhatikan kepentingan orang lain.
Peduli lingkungan merupakan sikap merawat, menjaga dan respon
terhadap lingkungan. Nilai ini dapat dikembangkan dengan membuang sampah
pada tempatnya, merawat tanaman dan binatang, membersihkan pekarangan dan
kelas, merapikan tempat mainan, memanfaatkan barang bekas sebagai media
pembelajaran/ alat untuk bermain. Cinta tanah air dan bangsa merupakan sikap
rela berkerban dan menghargai hasil buatan bangsa. Penanaman nilai ini dengan
mengenalkan produk-produk Indonesia dalam berbagai bidang, mengenalkan
cerita-cerita kepahlawanan, cerita rakyat, dan berbagai hasil seni dan budaya yang
dimiliki bangsa, berkunjung ke beberapa tempat wisata bersejarah dan lain
sebagainya. Nilai-nilai tersebut selain dikembangkan melalui pembiasaan seharihari dapat juga dilakukan dengan bercerita untuk mengenalkan karakter
mengingat pentingnya kegiatan bercerita untuk anak.
Terkait dengan hal tersebut, pendidik harus pula memahami bagaimana
nilai moral tersebut dapat terinternalisasi dalam diri anak dan menetap pada anak.
Perkembangan moral anak oleh Kohlberg (Crain: 2007: 231-239) dibagi atas tiga
tingkatan yaitu moralitas prakonvensional, konvensional, dan pascakonvensional.
Moralitas prakonvensional terbagi atas 2 tahap yaitu tahap pertama, anak
berorientasi pada kepatuhan dan hukuman. Moralitas dari suatu tindakan dinilai
atas dasar akibat fisik. Tahap kedua, anak menyesuaikan terhadap harapan sosial
untuk memperoleh penghargaan. Moralitas konvensional dibangun atas dasar
persesuaian dengan peraturan untuk mendapatkan persetujuan orang lain dan
untuk mempertahankan hubungan baik dengan orang lain. Tahap ini dibagi atas
dua tahap yaitu tahap penyesuaian dengan peraturan untuk mendapatkan
persetujuan orang lain dan untuk mempertahankan hubungan baik dengan mereka.
Tahap kedua, anak harus berbuat sesuai dengan peraturan yang berlaku
dalam masyarakat agar dapat diterima dan terhindar dri ketidaksetujuan sosial. Tahap moralitas terakhir yaitu pascakonvensional yaitu moralitas yang
sesungguhnya, tidak perlu disuruh, merupakan kesadaran dari diri orang tersebut.
Tahap ini pula terbagi atas dua tahap yaitu tahap dimana seseorang perlu
keluwesan dan adanya modifikasi dan perubahan standar moral jika dapat
menguntungkan kelompok secara keseluruhan. Tahap selanjutnya adalah tahap
seseorang menyesuaikan diri dengan standar sosial dan cita-cita internal terutama
untuk menghindarkan rasa tidak puas dengan diri sendiri.
Dengan demikian meskipun moralitas tersebut relatif menetap pada orang
dewasa, tahap pascakonvensinal merupakan tahap yang diharapkan pada setiap
orang yang menyebut diri dewasa. Hal ini berarti bahwa orang dewasa harus
memiliki kesadaran individu untuk menyesuaikan diri dengan nilai yang ada
disekitarnya sebagai bentuk kepuasan terhadap dirinya. Seseorang merasa puas
sebagai individu jika bisa melakukan sesuatu yang sesuai dengan nilai yang
berlaku dalam masyarakat. Sebaliknya, seseorang akan mengalami konflik batin
dan perasaan bersalah jika bersikap tidak sesuai dengan norma yang ada.

« Strategi mendidik anak


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: